Background Image

Blog Post

Oct 19

Jeli Memilih Makanan Sehat


Setiap hari kita semua tak bisa lepas dari kegiatan yang satu ini, yaitu makan. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari, makan adalah kegiatan pokok yang tidak bisa kita tinggalkan. Bahkan diantara waktu makan, kita masih disibukkan lagi dengan kegiatan “ngemil”. Lalu apakah kita lebih mengutamakan makanan itu enak dikonsumsi, lezat, karena kita suka makanan itu, atau lebih melihat apakah makanan itu dibutuhkan oleh tubuh kita, mengandung nutrisi yang sehat dan “aman” untuk kondisi tubuh pada orang-orang tertentu. Sebaiknya kita mulai jeli dalam memilih makanan sehat, dengan nutrisi yang memang dibutuhkan oleh tubuh kita. Lebih-lebih jaman sekarang ini, banyak sekali produk-produk makanan cepat saji, makanan dengan bahan-bahan tambahan, makanan instan, berpengawet, dan lain sebagainya.
Mulai saat ini, marilah kita secara bijak memilih makanan mana yang sehat, dan sesuai dengan tingkatan umur kita. Sebetulnya tidak ada yang salah kalau kita makan makanan yang kita suka, yang kita doyan. Tetapi akan lebih cerdas kalau kita makan makanan yang kita butuhkan, yang tubuh betul-betul membutuhkan nutrisinya.
Nasehat bijak adalah bila kita memasak sendiri makanan yang kita makan. Kita tidak tahu apakah makanan yang dijual di luar sana terjamin kebersihannya, bagaimana proses memasaknya, bahan-bahan tambahan yang kitapun tidak tahu. Apakah makanan yang dijual di luar sana sehat atau tidak, walahualam…..
Makanan asli di daerah tempat tinggal kita, Pati, kaya akan zat gizi. Ikan misalnya, sangat mudah ditemuai di pasar-pasar tradisional. Dan kita tahu, ikan mengandung protein hewani yang sangat kaya, terutama untuk anak-anak yang sedang dalam taraf perkembangan, baik fisik maupun kecerdasannya. Sayur dan buah juga sangat mudah kita temui. Kita tahu, bahwa keduanya mempunyai unsur vitamin dan mineral yang sangat baik untuk kesehatan kulit, mata, rambut kita.
Tubuh dan makanan kita berevolusi, mengalami perubahan walau tidak secara cepat. Makanan misalnya. Jaman dulu orang makan daging, ayam, telur, sayuran, buah-buahan dan sebagainya, apa adanya. Artinya, makanan itu diolah secukupnya, dengan bumbu-bumbu seperlunya, tanpa proses pengolahan yang berlebihan, atau penambahan zat-zat lain. Jaman sekarang, coba kita simak, daging sapi diolah menjadi kornet, sosis, daging burger beku, dan sebagainya. Daging ayam selain dibuat sosis, juga nugget dan olahan ayam lainnya. Sayuran yang dulu ditanam dengan pupuk organik, jaman sekarang sayur ditanam dengan tambahan zat insektisida, untuk membunuh ulat dan serangga lain pemakan daun. Buahpun tak luput dari insektisida. Buah yang dulunya dimakan begitu saja, sekarang banyak ditawarkan buah yang sudah diproses dan dikemas dalam kaleng tentu dengan penambahan zat gula yang berlebihan.
Makanan yang dijajakan juga makin beragam. Misalnya, martabak manis, yang dulu hanya tersedia dengan rasa original dengan penambahan coklat meses. Sekarang martabak manis tersedia dengan berbagai rasa dan warna. Hijau rasa pandan, merah rasa strawberi, kuning rasa durian, dan dengan penambahan selai aneka rasa buatan luar negeri yang lebih menjual. Tapi coba dilihat, apakah badan kita kita siap menerima zat-zat tambahan tersebut. Inilah yang membuat badan kita menjadi lebih gampang sakit atau tidak prima kondisi badannya.
Penyakit - penyakit  yang menduduki rangking pertama penyebab kematian, saat ini adalah penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, kanker. Berbeda dengan penyebaran pola penyakitt 40 atau 50 tahun yang lalu, dimana penyakit-penyakit infeksi menduduki rangking pertama. ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut, cacar air, morbili, dan sebagainya. Penyakit-penyakit infeksi yang pada umumnya mudah diatasi dengan obat-obat sederhana. Evolusi makanan berakibat pada evolusi penyakit. Kita mesti harus menyadari dan mewaspadainya.
Bicara soal makan, secara umum kita lebih menyukai makanan yang berkarbohidrat tinggi, atau tinggi kalori dan goreng-gorengan yang menambah kandungan lemak tak sehat. Makanan-makanan tersebut menggeser posisi makanan yang bentuknya tidak jauh berbeda dengan kondisinya di alam.  Padahal untuk memperoleh asupan gizi maksimal, kita sebaiknya memilih bahan makanan yang berasal dari alam atau disebut pangan alamiah.
Pangan alamiah adalah bahan-bahan pangan yang memang sudah tersedia di alam dan diolah sesuai dengan bentuk aslinya di alam. Pangan alam lebih cocok dengan “siapa” yang makan, tentunya dengan prosedur pemasakan yang terbatas. Lebih baik semua bahan makanan diolah atau dimasak sendiri. Contoh, makanan balita berupa bubur beras. Sebaiknya ibu-ibu tidak malas untuk membuat sendiri bubur untuk balita kita tersayang, dengan penamban bahan-bahan makanan bergizi seperti: sayuran, ikan, daging, dan sebagainya. Tidak dengan mudah membeli makanan bayi instan hanya dengan alasan repot, supaya praktis. Bukan berarti melarang para ibu untuk membeli makanan instan untuk bayi dan balita, tapi imbangannya, coba diimbangi dengan makanan yang asli olahan sendiri yang pasti dijamin sehat, bergizi dan higienis. Contoh lain, kornet, sosis, atau produk kalengan yang lain. Mengapa harus makan sosis atau kornet kalau kita bisa mengolah sendiri daging segar dengan bumbu-bumbu yang sangat kaya ragamnya? Dan masih banyak contoh yang lain. Sekali lagi, bukan berarti kita tidak boleh jajan makanan-makanan di resto cepat saji, dll, tetapi lebih ditekankan imbangannya, yaitu diimbangi dengan mengkonsumsi makanan-makanan dari bahan alami.
Ibu jaman sekarang, lebih-lebih yang bekerja, dituntut serba cepat dan praktis. Para ibu memang memasak, tapi apa yang dimasak, mie instan, goreng nugget, goreng telur, bubur ayam instan, dan sebagainya yang serba instan dan praktis karena dituntut serba cepat. Tapi tugas ibu pula mendidik dan memberi contoh anak untuk memberi asupan gizi yang baik, mendidik anak untuk makan. Untuk anak-anak gadis, mendidik mereka untuk menjadi ibu yang baik di kemudian hari, minimal seperti ibunya. Ini yang disebut dengan pendidikan keluarga. Jadi pendidikan keluarga tidak hanya tentang kepatuhan anak beribadah, sopan santun, tapi juga mendidik supaya anak mampu merawat tubuhnya dengan baik, dalam hal ini dengan jeli memilih makanan sehat dan yang paling penting adalah makanan yang dibutuhkan oleh badan. Semoga bermanfaat.
Terima kasih…..Berkah Dalem…….

 

(Oleh: Celerina Krisantari)

Back   
 
Add Comment:
Please login or register to add your comment or get notified when a comment is added.